Pagerungan Besar, Pulau Kering Kaya Gas yang Dikelola Group Bakrie

Ghozi Ahmad
Pulau Pagerungan besar yang masuk Wilayah kabupaten sumenep jawa Timur

Mesin PT6A buatan Pratt dan Whitney, pabrikan mesin pesawat asal Kanada, bergemuruh. Perlahan, dua unit mesin di kiri dan kanan sayap itu, menerbangkan pesawat Twin Otter DHC-6 400 meninggalkan landas pacu Bandara Juanda, Surabaya.

Pesawat milik Pegasus Air Services itu membawa rombongan SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia Ltd, menuju pulau Pagerungan Besar. Penerbangan dari Surabaya ke Pulau Pagerungan, memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Bisa lebih cepat jika cuaca cerah bersahabat, demikian sebaliknya.

banner 325x300

Di dalam pesawat ada Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Dwi Soetjipto; President EMP Mining Overseas Pte Ltd, Adinda Andarina Bakrie; Presiden Kangean Energy Indonesia Ltd, Hiroka Tanaka; Serta anggota rombongan lain.

Dwi mengunjungi Pulau Pagerungan Besar, untuk melihat operasi dan pengelolaan Blok Migas Kangean oleh Kangean Energy Indonesia Ltd (KEI). Blok Migas Kangean, berada di Kepulauan Sapeken dan wilayah perairannya (offshore). Pusatnya ada di Pulau Pagerungan Besar.

Pilot menerbangkan pesawat pada ketinggian sekitar 1.600 kaki dengan kecepatan sekitar 130 km per jam. Cuaca cerah dan kecepatan angin yang bersahabat, membuat penerbangan berjalan lancar. Setelah mengudara 1 jam 20 menit, pesawat dengan kapasitas 15 penumpang serta dua awak dan seorang teknisi itu, mendarat mulus di Bandara Pagerungan.

Bandara itu memiliki landas pacu sepanjang 915 meter dan lebar 30 meter. Lokasinya di Desa Pagerungan besar, Kecamatan Sapeken. Waktu baru menunjukkan pukul 09.20 WIB. Belum terlalu siang sebenarnya. Tapi begitu keluar dari pesawat, udara terik di bandara terasa menyengat. Menegaskan musim kemarau panjang tahun ini.

“SKK Migas harus membangun komunikasi yang efektif dengan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas,” katanya menjelaskan tujuan kunjungannya ke Pulau Pagerungan Besar, dalam perbincangan yang dikutip media bajauindonesia.com dari kumparan.com “Dengan begitu, masalah-masalah yang menghambat produksi bisa segera diantisipasi. Kan kita maunya produksi (migas) naik terus. Enggak boleh declining. Jadi SKK Migas dituntut lebih proaktif,” imbuh mantan Direktur Utama Pertamina itu.

BACA JUGA:  Karena Corona, Penghapusan UN Jadi Lebih Cepat Setahun

Kangean Energy Indonesia Ltd merupakan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas. Setengah perusahaan itu, saham-nya (working interest) dimiliki Grup Bakrie melalui PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Mereka berkongsi dengan Japan Petroleum Exploration (Japex), yang menguasai setengah porsi saham lainnya. KEI memusatkan pengelolaan bisnis Blok Migas Kangean di Pulau Pagerungan Besar.Saat Kami dan rombongan tiba di Pulau Pagerungan Besar, sore harinya sedang ada pertandingan sepak bola antar-kampung. Sebagian besar penduduk pulau itu, berkerumun memenuhi arena pertandingan. Jalan desa di salah satu sisi lapangan, juga diramaikan oleh pedagang kagetan, yang sengaja memanfaatkan keramaian itu untuk meraup omzet lebih. Para pedagang menawarkan aneka makanan. Juga barang kebutuhan sehari-hari. Suasananya riuh, antara yang berjualan dan berbelanja. Juga yang menonton sepak bola. Ulasan komentator melalui pengeras suara, ditingkahi sorak sorai para pendukung terutama dari kesebelasan tuan rumah. Apalagi saat itu, tim Pagerungan Besar tertinggal 0-1 dari tim tamu dari pulau sebelah.Meski ada aroma persaingan, tapi tak berlanjut jadi perseteruan. Mayoritas penduduk Kepulauan Sapeken, termasuk di Pulau Pagerungan Besar dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, berasal dari etnis yang sama yakni suku Sama Bajau

Ladang gas pagerungn besar

President Emp Overseas Pte ltd, Adinda Andarina Bakrie

Suasasana di pulau pagerungan besar pulau yang mayoritas suku bajo dan pemasok terbesar minyak untuk jawa timur

Jadi secara kultural, penduduknya berbeda dengan warga Kabupaten Sumenep, yang menjadi induk pemerintahannya. Posisi Pulau Pagerungan Besar, juga sebenarnya cukup jauh dari Sumenep. Posisinya berada di Laut Bali, lebih dekat ke Pulau Lombok di bagian selatan dan Kalimantan Selatan di bagian utara.

BACA JUGA:  Mayjen TNI Berikan Bantuan pada Masyarakat Suku Bajau di Kendari

Saat Kami menyusuri jalan-jalan di perkampungan warga, terasa suasana yang bersahaja. Jalan desa yang sebagiannya dibangun dari dana CSR Kangean Energy Indonesia Ltd, tertata rapi. Tempat tinggal penduduk kebanyakan dibangun berupa rumah panggung dari kayu. Atapnya dari daun kelapa atau rumbia. Ada juga sebagian rumah yang berdinding tembok dengan lantai keramik. Lingkungannya bersih. Hampir tak ada sampah.

Di Pagerungan Besar, jumlah penduduknya sekitar 6 ribu jiwa. Mereka tersebar di lima dusun. Anak-anak warga setempat, bersekolah di dua SD dan satu SMP di pulau itu. Sementara untuk melanjutkan ke SMA, umumnya mereka harus merantau ke Banyuwangi atau Pasuruan, Jawa Timur.

Sementara penduduk dewasa kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Bertani adalah kegiatan sampingan, karena tanah di pulau itu kering. Bahkan tandus. Dengan topografi yang datar, tak ada sungai yang mengalir dan bisa mengairi lahan pertanian di Pulau Pagerungan Besar.

Kebutuhan air bersih bagi penduduk sebanyak itu, dipasok oleh KEI. Perusahaan memiliki fasilitas pengolahan air laut menjadi air tawar, dengan teknologi reverse osmosis. Kapasitasnya mencapai 150 ton air tawar per hari.

Meski kering dan tak punya sumber air tawar, tapi pulau terpencil itu sangat kaya dengan gas. Itulah yang mendorong KEI beroperasi di sana. Gas produksi KEI itu pula yang melistriki rumah-rumah penduduk setempat. KEI memiliki pembangkit listrik dengan kapasitas 2 x 1 MW dan 3 x 500 Kw.

BACA JUGA:  Suku Bajau dan Perkampungannya di Wakatobi

Pengelolaan Blok Migas Kangean oleh KEI, terpusat di Pulau Pagerungan Besar. Di pulau yang melintang dari timur ke barat sepanjang 3 kilometer itu, KEI memiliki unit pemrosesan gas (gas plant). Total ada 18 sumur yang dikelola anak perusahaan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), unit bisnis dari Grup Bakrie itu.

Ahmad Bunyamin, mengungkapkan perusahaannya sebenarnya punya kapasitas produksi sampai 200 MMSCFD. “Lalu kenapa realisasi produksi kita enggak sampai segitu? Karena ada isu di demand side. Permintaan enggak sebesar itu, karena di pembangkitan listrik misalnya, gas jadi cadangan dari batu bara,” kata pria yang biasa disapa Abun itu.

Menurut Dwi, manfaat dari kunjungan lapangan seperti ini adalah bisa menemukan persoalan on the spot. Dengan begitu, bisa segera dicarikan solusinya. “Jika potensi produksinya besar, seharusnya bisa direalisasikan sehingga kontribusi ke penerimaan negara maksimal,” kata Dwi menanggapi penjualan gas KEI yang di bawah kapasitas produksinya.

Dari kunjungan semacam ini, Dwi juga bermaksud mendorong para kontraktor migas untuk mengusahakan ladang-ladang migas yang belum tergarap, di wilayah kerja yang mereka kuasai. “Termasuk Kangean ini, saya berharap produksinya bisa naik lagi. Seperti dulu peak-nya bisa mencapai 330 MMSCFD,” ujar Kepala SKK Migas itu.

SKK Migas Dwi Sudjipto
error: Content is protected !!