Bermula dari misi dan cita-cita besar aktivis perempuan suku Bajau (Bajo), Erni Bajau yang ingin membuat sebuah wadah komunitas atau perkumpulan yang menghimpun anggota dari semua wilayah di Indonesia.
Erni Bajau kemudian mengatur sebuah pertemuan silaturahmi di Jakarta Pusat. Ia mengundang enam orang pemuda aktivis Bajau, yang saat itu sedang berada di Jakarta, yang masing-masing mewakili komunitas yang dibentuknya atau diikutinya
Pertemuan dihadiri:
- Erni Bajau mewakili Forum (Keluarga) Bajau Indonesia (Asal Sulawesi Tenggara)
- Tasdik/Ridal mewakili Sama Bajo Nusantara, organisasi yang dibentuknya dan sebagai ketuanya (Asal Sulawesi Tengah)
- Parman dari Bajo Bangkit (Asal Sulawesi Tenggara)
- Leo Kusuma Asryad mewakili Kerukunan Keluarga (Kekar) Bajo SulTra,
- Rudi dari Pers (Metro TV) – Asal Sulawesi Tenggara
- Tedi (adik dari Rudi)
- Tomy Kibu pemerhati budaya Bajau, sineas Sultra yang telah beberapa kali melahirkan karya film tentang Bajau
Tepatnya tanggal 16 Juli 2019, di cafe D’Bajo (Dapurang Bajo) Saat ini menjadi kantor PT. Multimedia Bajau Indonesia di Tanah Tinggi – Jakarta Pusat, Pertemuan yang hanya sekadar rencana silaturahim tersebut tiba-tiba melahirkan sebuah ide besar yakni menginisiasi kegiatan kongres.
Masing-masing mengeluarkan pendapat, saran, masukan memberi penguatan pada ide, semuanya adalah cita-cita untuk kebesaran dan kejayaan Bajau.
Setelah melalui proses berdebatan alot memilih dan membahas nama organisasi yang pas yang bisa mewakili unsur kehidupan, falsafah, dan sejarah masyarakat Bajau.
Beberapa nama akronim organisasi dimunculkan, diskusi tentang usulan nama organisasi dimulai sejak pukul 21.00 WIB hingga pukul 23.43 WIB
Saat itu; – Erni Bajau mengusulkan dua nama yakni : Sama Bajo Indonesia dan Sama Bajo Nasional dengan misi membentuk organisasi baru dengan wajah baru yang akan turut meramaikan organisasi Bajau di Indonesia (mengingat sudah banyak oraganisasi Bajo terbentuk) diharapkan dapat berkolaborasi dalam program, dengan visi yang sama yakni untuk kebesaran, kebaikan, dan kejayaan Sama Bajau.
Ridal Tasdik mengusulkan nama Sama Bajo Nusantara, disesuaikan dengan nama organisasi yang diketuai dan dibentuknya, ia memabawa misi Sama Bajo Nusantara akan menjadi payung semua organisasi Bajau (Bajo) yang ada di Nusantara.
Erni Bajau mengajukan keberatan dengan nama organisasi yang diusulkan Ridal. Ia menyarankan harus nama baru, nama yang tidak mewakili organisasi atau komunitas Bajau yang sudah ada dan sudah terbentuk, untuk menghindari monopoli popularitas organisasi.
Parman, Leo Kusuma, Tomy Kibu, Tedi, dan Rudi tidak mengusulkan nama, namun mengikuti saja, nama apapun yang akan dipakai pada akhirnya akan dibahas di dalam kongres, itu pendapat mereka.
Kemudian dilakukanlah voting terhadap tiga nama tersebut, semua peserta voting berjumlah 7 orang. Masing-masing peserta menuliskan nama pilihannya pada secarik kertas.

Ketujuh orang pemuda bersepakat bahwa apapun hasil voting, apapun nama yang keluar, tidak boleh diganggu-gugat dan mutlak akan dipakai sebagai nama organisasi pengusung kongres mendatang, rencanya akan diselenggarakan di 2020 mendatang.
Akhirnya, hasil voting keluar: nama Sama Bajo Indonesia, 4 suara, Sama Bajo Nusantara 3 suara dan memutuskan nama organisasi Sama Bajo Indonesia sebagai organisasi yang akan dibentuk, sebagai pengusung kongres 2020 mendatang.
Tujuh anak muda itu mulai berdiskusi, mengatur strategi, mengusulkan lokasi dan tempat kongres, hingga nama-nama tamu yang akan diundang. Legalitasnya akan diurus, administrasinya akan diatur.

Namun, beberapa jam kemdian, tiba-tiba, Ridal menggugat hasil voting. Menurut Ridal, hasil voting tidak sah karena Tedi (23 Tahun – yang notabene adalah orang Bajau – Wakatobi) tidak memiliki kapasitas dalam pemungutan suara tersebut, karena tidak mewakili komunitas apapun, lalu Tomi Kibu, suaranya dianggap tidak sah karena Tomi bukan orang Bajau. Perdebatan panjang pun terjadi.
Untuk menghindari perdebatan panjang pada dini hari itu, Erni Bajau mengalah, sehingga dilakukanlah voting ulang.
Voting kali ini akan diambil dari lima peserta Erni Bajau, Ridal Tasdik, Parman, Leo Kusuma, Rudi.
Kembali secarik kertas disobek untuk menuliskan usulan 2 nama organisasi dari Erni Bajau: Sama Bajo Indonesia, dari Ridal: Sama Bajo Nusantara,
Alhasil, kali ini nama yang diusulkan Ridal keluar jadi pemenang, dengan perolehan; 2 suara memilih Sama Bajo Indonesia dan 3 suara untuk nama Sama Bajo Nusantara. Kemudian semuanya, bertanda tangan, dan bersepakat sebagai inisiator acara Kongres.
Rencana dan strategi menuju Kongres pun di susun, kemudian rapat nonformal itu berakhir hingga jelang subuh.

Merasa tidak memiliki persamaan visi misi, Erni Bajau mengundurkan diri dari inisiator Kongres Sama Bajo Nusantara 2020.
Erni Bajau berpendapat akan sulit mengajak semua orgasnisasi Bajau yang ada san sudah terbentuk lama untuk bersfiliasi (bergabung). Akan timbul gejolak, kontroversi, bahkan tekanan dari anggotanya. Juga mengingat, dalam perjalanannya, organisasi-organisasi tersebut lebih duluan lahir dan lebih matang, belum lagi menghadapi pro dan kontra para kader dan anggotanya, antara yang mau bergabung dengan Sama Bajo Nusantara atau tidak mau bergabung.
Tanggal 20 Juli 2019, Erni Bajau menginisiasi membentuk organisasi masyarakat Bajau dengan nama Persatuan Orang Sama Bajau Indonesia, disingkat POSBI (Saat ini menjadi: Perkumpulan Orang Same Bajau Indonesia tetap disingkat POSBI – Menyesuaikan nama yang disetujui dalam SK Legalitas Kemenkumham) sehingga tanggal 20 Juli 2019 dijadikan sebagai Hari Lahir POSBI atau Hari Terbentuknya Organisasi Perkumpulan Orang Same Bajau Indonesia – POSBI.


















