TAMU KEHORMATAN

Avatar

Tamu Terhormat


Oleh: Hamdy M. Zen
Pendiri Generasi Milenial Pancasila

banner 325x300

Bermohon agar selalu diberi kesehatan dan keselamatan pada Sang Tuhan, merupakan suatu hal yang bahkan telah mendarah daging bagi segenap makhluk Tuhan. Tidak ada satu makhluk Tuhan di dunia ini yang berharap “ panyake ” atau pun musibah mewarnai kehidupannya. Itulah sebabnya, sehingga di dalam menjalani kehidupan ini, kita selalu berdoa kepada Sang Kuasa untuk terhindar dari dua hal yang mengerikan itu.
Ya, penyakit atau yang biasa dikenal dengan sebutan panyake bagi orang Terntae, seperti yang dipahami, dapat mengakibatkan kematian terhadap penderitanya. Begitu pun dengan musibah. Siapa sih yang mau daerahnya terjadi gempa, yang pada akhirnya meruntuhkan gedung – gedung tempat kita berteduh tenang?


Hal tersebut di ataslah, sehingga membuat orang – orang, termasuk kita, selalu berharap agar terhindar dari panyake dan musibah itu sendiri. Karena pada substansinya, setiap dari kita, punya pengharapan yang sama, yakni hidup sehat, aman, tentram dan damai, dalam menjalani kehidupan ini.
Namun demikian, saat ini kita dikejutkan dengan sebuah peristiwa di negeri Cina yang sungguh menakutkan juga meresahkan. Hal yang selama ini menjadi sebuah momok menakutkan, kini mulai merambah sampai ke seluruh penjuru dunia. Bahkan, bahaya tersebut telah masuk ke wilayah Indonesia. Sehingga membuat kita menjadi panik dan takut.
Beritanya pun kian mengudara. Status di media sosial menjadi ramai akan hadirnya. Media – media pun turut memberitakan kebrutalan akan bahayanya. Baik itu, media cetak, maupun media elektronik. Semua kian ramai membicarakan akan eksistensinya.


Ya dialah virus corona. Virus yang sungguh mematikan. Virus yang kini, membuat orang menjadi tidak bebas dalam melangkah. Bahkan di negara – negara tertentu, warganya dilarang untuk bepergian ke luar negeri. Bahkan sekedar untuk menonton hobi seperti sepak bola dan lain – lain pun dibatasi. Dan masih banyak lagi dan lagi, hal – hal yang sama.
Seperti halnya negara lain, di Indonesia, kita pun dianjurkan agar selalu waspada terhadapnya. Kita diminta untuk selalu mencegah akan kehadirannya, agar ia tak bisa menyapa kehidupan kita. Untuk mencegahnya, kita disuruh untuk menggunakan masker ketika berpergian. Selain itu, kita juga diinstruksikan agar memperbanyak mengkonsumsi sayur – sayurna serta buah – buahan. Lalu, kita jangan pula lupa, adab ketika mau bersin.
Fakta di atas, dalam dua bulan terkahir ini, semakin ramai diperbincangkan. Saking ramainya, terkadang kita bisa melihat terang – terangan, ada oknum – oknum tertentu, yang justru mencoba mengambil manfaatnya dari peristiwa tersebut. Di satu sisi, turut memberikan peringatan, tapi di sisi yang lain, malah melempar kesalahan. Sehingga, seakan – akan, ada pihak yang mesti disalahkan dalam hal ini. Endingya, kita menjadi bingung. Apa yang seharusnya kita lakukan, agar terhindar dari monster yang bernama corona ini.
Corona yang pada awalnya merupakan sebuah virus yang menakutkan dan mematikan, kini beralih status menjadi sebuah senjata paling ampuh untuk berperang, dalam dunia perpolitikan kita. Corona yang seharusnya dijauhi, mala justru semakin kuat kita mengejarnya, untuk perlahan mendekat, lalu dengan tersenyum pelan, kita raih dan memeluk erat tubuh racunnya seakan penuh dengan cinta. Sungguh ironis kawan.
Kini, dalam diam, corona tertawa. Dalam lelap dia tak ingin lepas dari gelap. Berharap, terus didekap. Perlahan ia merangkak, lalu berdiri dan berlari dengan kencang. Dari kejauhan, ia bersuara tanpa beban. “Aku menang, aku menang dan hanya menang ”.
Masih banyak persoalan yang mungkin, kini sejenak terlupa, oleh karena kehadiran ku. Itulah misi ku. Misi tersembunyi yang tanpa kau tahu selama ini. Aku adalah corona. Sebuah virus mematikan. Tapi aku sadar, aku juga makhluk ciptaan Tuhan seperti mu. Aku datang sebagai penguji bagi mu.
Aku tahu, di balik keganasan ku, ada jawaban yang dapat mencegah, bahkan bisa juga membasmi karakalan ku. Sebab aku, bukan Izrail yang bertugas mencabut nyawa mahal mu. Bahkan, aku pun juga bukan Israfil yang datang memberi tanda telah tiba waktu akhir. Aku adalah corona, yang juga sebangsa dengan malaria, sebangsa pula dengan demam berdarah, flu burung dan lain sebagainya.
Aku sama dengan mereka. Jika kau tak berhati – hati, aku bisa saja menjadi mimpi buruk dalam kehidupan mu. Namun begitu, aku bahkan menjauh dari kehidupan indah mu, jika kau mau tuk memberi, peringatan bagi ku. Sebab aku adalah ujian bagi mu kawan. Aku adalah tamu terhormat yang tak diundang. Aku diutus langsung oleh Tuhan tuk menyapa mu, untuk melihat siapa diantara kamu, yang masih mengingat kepada – Nya.
Kau harusnya melayani ku layaknya tamu mulia mu. Jika saja aku dilayani seperti itu. Pasti aku akan segera pulang dan memberi kabar gembira pada Tuhan. Aku akan berkata pada – Nya, Ya Tuhan ku, aku telah penuhi tugas ku dari Mu itu. Aku telah menyapa makhluk mu yang sempurna yang bernama manusia itu. Alhamdulillah banyak di antara mereka yang masih mengingat akan kebesaran Mu.
Tapi sayang, dengan kelakuan mu yang sekarang, aku mau bilang apa pada – Nya? Dengan terpaksa aku harus jujur pada – Nya kawan. Dengan berat hati aku akan berkata, ya Tuhan ku, aku telah memenuhi tugas ku dari Mu. Maaf Tuhan, makhluk Mu yang bernama manusia, telah salah menafsirku. Mereka pikir aku adalah musuh yang nyata. Mereka memusuhi ku. Bahkan aku dijadikan kambing hitam dalam memuaskan kepentingan mereka.
Aku dijadikan senjata mematikan dalam momentum politik yang dimainkan. Kehadiran ku membuat mereka menjadi saling menyalahkan. Aku menjadi tenar, bahkan aku viral. Mendadak aku menjadi artis papan atas seantero dunia. Aku bahkan mengalahkan ketenaran yang dimiliki oleh seorang Cristiano Ronaldo sang pemilik lima ballon de’Or dalam dunia sepak bola. Aku pun mengalahkan rivalnya yakni Leonel Andreas Messi si pemilik enam ballon de’Or tersebut.
Aku dimanfaatkan dalam meraih kepentingan mereka Tuhan. Dalam diam, aku tertawa. Aku bahagia. Aku senang luar biasa. Sungguh ini menakjubkan Tuhan. Namun begitu, di atas bukit tertinggi, aku duduk termenung, lalu ku lihat mereka menari seolah menang. Tanpa sadar, air mata ku jatuh perlahan membasahi pipi ku yang mungil ini Tuhan. Aku kasihan kepada mereka. Mereka lupa, aku adalah kabar gembira yang sebenarnya. Tapi bukan untuk dipermainkan, namun untuk menjadi sadar dan memeluk erat tubuh sabar.
Tuhan, Kaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Sayangilah aku sebagai pelaksana tugas Mu di muka bumi, menjadi virus corona ini. Aku tahu, aku, Kau jadikan kejam untuk menguji kekasih Mu yang bernama manusia. Aku, Kau ciptakan untuk mereka menjadi sadar dan masuk tergolong dalam golongan orang – orang yang sabar.
Tapi kini, mereka terlena dengan kecantikan dunia, sehingga aku yang begitu buruk rupa ini, seperti bidadari yang begitu cantik mempesona, sehingga mereka kemudian begitu mengelok – elok ku, menjadikan aku menjadi kekasihnya dalam meraih apa yang diinginkannya. Aku tahu, Kau adalah Maha penyayang, maka sekali lagi, sayangilah aku, mereka dan kita semua Tuhan.
Mungkin seperti itu yang akan dijelaskan Corona di hadapan Tuhan teman. Sebagai makhluk yang sempurna dan mulia, alangkah baiknya kita jangan terkecoh dengan kehadirannya. Mari sama – sama kita introspeksi diri dan mari sama – sama kita layani virus corona layaknya tamu termulia agar kembalinya pun ia meninggalkan kesan yang baik bagi kita. Sehingga ia pun kemudian sampaikan salam rindu kita pada Sang Tuhan dengan penuh suka cita.
Rasanya sangat indah jika kita saling berbagi kasih sayang antar sesama. Jangan jadikan corona sebagai senjata ampuh dalam berpolitik. Saat ini kita membutuhkan pencegahan dari serangan corona. Jangan lagi membuat panik, bingung dan resah pada kita atas kehadiran corona. Corona hadir untuk menguji kita. Dia adalah tamu terhormat yang tak diundang dari Sang Tuhan. Tabea.

BACA JUGA:  CONTOH NASKAH PIDATO KAMPANYE CALON KEPALA DESA

Ternate, Puncak Dufa2, Kamis 12 Maret 2020.

error: Content is protected !!