Tak Dapat Bantuan Selama Pandemi Covid-19, Gubenur Jatim Khofifah Dinilai Abaikan Masyarakat Kepulauan Sapeken

Prabu Siliwangi

Bajauindonesia.comMasyarakat Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep kecewa kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa karena dinilai pilih kasih dalam memberikan bantuan sembako kepada masyarakat kepulauan. Sebab, di antara beberapa kepulauan yang ada di timur Pulau Madura, hanya Pulau Raas dan Pulau Kangean yang mendapatkan bantuan.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Yayasan Dakau Lamak (Yayasan Satu Layar) Abdurrahim melalui keterangan tertulis, Jumat (15/5/2020). Menurutnya, Pemprov Jawa Timur telah mendistrubusikan bantuan berupa sembako dan sejumlah peralatan medis ke kepulauan menggunakan Kapal Perang KRI Teluk Ende-517 pada Kamis (30/5/2020).

Namun, Kepulauan Sapeken yang terletak di bagian paling timur Jawa Timur tidak kebagian bantuan tersebut. Kapal Perang yang dikirim untuk mengantar bantuan tersebut hanya mampir dan menurunkan bantuan di Pulau Raas

Padahal melalui cuitannya di Twitter, bu Khofifah mengatakan Kepulauan Sapeken juga akan mendapatkan bantuan tersebut. Di berbagai berita di media juga disebutkan bahwa Sapeken mendapat bantuan. Tapi nyatanya itu bohong. Hanya Pulau Raas dan Pulau Kangean yang mendapatkan bantuan itu,” tutur Abdurrahim.

BACA JUGA:  POSBI Go Internasional, Bawa Isu Masyarakat Sea Nomad Indonesia: Sama-Bajau

Menurut Abdurrahim, saat mendengar informasi bahwa Pemprov Jawa Timur akan mengirimkan bantuan sembako, masyarakat Kepulauan Sapeken sudah sangat gembira. Bahkan, tak sedikit yang mengingatkan Kepala Desa agar diprioritaskan untuk mendapat bantuan tersebut.

“Bayangkan, tidak sedikit masyarakat yang menanti kedatangan bantuan itu di dermaga Sapeken. Nyatanya, kapal yang diharap-harapkan itu hanya sekedar lewat. Betapa kecewanya masyarakat jika diperlakukan seperti ini,” ujar Abdurrahim.

Lebih lanjut, Abdurrahim mengatakan hingga saat ini, Kepulauan Sapeken belum mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Sumenep maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Padahal, lanjutnya, Kepulauan Sapeken sangat rawan akan dampak pandemi Covid-19, mengingat letaknya yang cukup jauh dari perkotaan. Perlu waktu 16 jam perjalanan laut dari pelabuhan Kalianget-Sumenep untuk sampai di Kepulauan Sapeken.

BACA JUGA:  LDK HMPI Muna Barat: Harus Melahirkan Kader Berkarakter, Loyal, dan Intelektual

“Kepulauan Sapeken terdiri dari 1 Kecamatan dan 11 Desa. Terdiri dari puluhan pulau. Jadi 1 Desa ada yang 1 Pulau, ada juga 1 Desa terdiri dari 2 hingga 3 pulau. Jadi pulaunya pisah-pisah. Fasiltas Kesehatannya cuma 1 unit Puskesmas dengan alat dan tenaga kesehatan yang sangat terbatas. Tidak ada dokter spesialis, dokter umum kalau tidak salah cuma 1 orang. Sisanya perawat, itu pun jumlahnya terbatas,” terang Abdurrahim.

Abdurrahim Wakil Ketua Yayasan dakau Lamak kepulauan sapeken

“Bayangkan jika pandemi Covid-19 ini tersebar di Kepulauan Sapeken. Siapa yang akan menangani pasien? Puskesmas dengan fasilitas yang minim itu? Tidak mungkin. Mau dibawa ke Sumenep? perlu waktu 16 jam perjalanan laut. Itupun kalau Rumah Sakit di Sumenep mau menerima. Sementara kapal penumpang dibiarkan keluar masuk ke Sapeken. Perantau-perantau dibiarkan pulang. Apa masyarakat Sapeken mau dibunuh?,” tambahnya.

Abdurrrahim berharap Gubernur Jawa Timur dan Bupati Sumenep mengarahkan perhatiannya kepada masyarakat Kepulauan Sapeken. Ia mengungkit, setiap kali ada pemilihan Bupati dan Gubernur, masyarakat Sapeken juga menyalurkan hak pilihnya.

BACA JUGA:  Asal-Usul, Tradisi, dan Perubahan Suku Bajau

“Pak Bupati, bu Gubernur juga kampanye ke Sapeken. Kalaupun bukan dia sendiri yang datang, setidaknya tim dan alat peraga kampanyenya datang ke Sapeken. Mereka juga dapat suara dari Sapeken. Masa setelah menjabat mereka lupa. Perhatikan dong nasib rakyat kalian. Masa 1 lembar masker saja tidak dikasi. Kok keterlaluan banget kalian,” tegas Abdurrahim.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
× Chat Redaksi