Sapeken Masuk Wilayah Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur Tapi Mayoritas Warganya Berbahasa Sama Bajo

Ghozi Ahmad
Pelabuhan kapal perintis kecamatan sapeken tujuan kalianget madura dan tujuan banyuwangi jawa timur

Pulau sapeken Yang Padat Penduduk

banner 325x300

Dalam Perjalanan Laut dari Kayuaru Menuju Pulau Sapeken, Pulau Paliat menghiasi pandangan sisi kanan perahu sepanjang perjalanan. Di sebelah kiri, Pulau Salarangan juga terlihat dari kejauhan. Estimasi perjalanan diperkirakan 45 menit. Namun, perahu yang ditumpangi harus melawan ombak, sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Sekitar satu jam lebih perahu masuk ke perairan Sapeken.

Sampai di pulau ini, seperti bukan di Madura. Selain rumah, ada yang berbeda dengan masyarakat di pulau ini. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi bukan bahasa Madura. Bahkan, saat ada yang menyapa hanya dibalas dengan senyuman karena tidak mengerti bahasanya, Terang Jawa Pos Radar Madura Kepada Bajauindonesia.com, Akhirnya menggunakan bahasa Indonesia.

BACA JUGA:  Suku Bajau, Sang Aquaman Dunia Nyata

Rahman, warga Dusun Buket, Kecamatan Sapeken, mengatakan, di pulau ini, bahasa yang digunakan memang bukan bahasa Madura. Hal itu dikarenakan akulturasi budaya nenek moyang zaman dahulu. Menurut Rahman, Pulau Sapeken banyak disinggahi nelayan asal Sulawesi. Namun, tidak diketahui pasti tahun berapa.

Warga di sana masih mempertahankan rumah adat dan bahasa Bajo. Walaupun sebagian sudah direnovasi seperti rumah pada umumnya menggunakan tembok. Celurit juga terlihat tidak banyak digunakan. Warga di sana menggunakan parang.

Nama Sapeken sendiri diambil dari bahasa Bajo. Pakkan memiliki arti tenggelam( Sipakkan = Tempat Orang Yang Tenggelam/ Terbalik Perahu). Sebab, dahulu banyak orang tenggelam/Terbalik yang hanyut ke pulau ini. Tapi, bahasa Bajo di Sapeken sudah terkontaminasi oleh bahasa Jawa dan Madura. Jadi, tidak lagi berbahasa Bajo murni.

Pulau-pulau di sekitar Sapeken juga memiliki bahasa daerah yang berbeda. Pulau Pagerungan besar dan Pagerungan kecil misalnya menggunakan bahasa Mandar dan Bajo. Pulau Sepanjang berbahasa Madura khas Kangean. Sementara Pulau Salarangan berbahasa Madura.

BACA JUGA:  Menelisik Kembali Interaksi Masa Lalu Pelaut-pelaut Makassar dengan Suku Aborigin Australia

Sekitar tahun 2017, pernah diselenggarakan festival akulturasi budaya Bajo. Panitia mengundang duta Malaysia dan Filipina, karena di negara tersebut menurutnya masih ada suku Bajo.

Keunikan Pulau Sapeken mengundang banyak perhatian. Banyak pelajar yang datang untuk melakukan penelitian seputar sosial budaya di pulau ini. Bahkan, ada pelajar asal Prancis dan Amerika yang pernah singgah untuk kursus bahasa Bajo di Pulau Sapeken.

Meski berbeda suku, bahasa, dan budaya, masyarakat Sapeken juga tetap mengakui statusnya sebagai bagian dari warga Sumenep, Di Pulau Sapeken tidak hanya tinggal suku Bajo. Ada juga Madura, Jawa, dan Bali, Keberagaman suku di pulau ini tetap tercipta kehidupan rukun meski hidup berdampingan.

BACA JUGA:  Erni Bajau: Hampir Semua Orang (di Jakarta) Tidak Mengenal Suku Bajau

Sayangnya, tidak banyak yang bisa dijelaskan Rahman tentang cerita Sapeken zaman dahulu. Dia mengarahkan untuk bertanya lebih lanjut pada tokoh sesepuh setempat. Namun, saat didatangi ke kediamannya, yang bersangkutan tidak ada di tempat.Tamban manditu (tinggal di sini saja. Bajo). Tunggu orangnya datang. Ada bukunya juga soal asal-usul Sapeken ini, jelas Rahman.

Nama Awal Sapeken Adalah Sipakkan Yang Berarti Tempat Orang Yang Terbalik Tenggelam Perahunya Atau Sampannya.

Kapal-kapal kecil yang sandar di samping pelabuhan adalah milik Warga yang datang dari berbagai kepulauan sapeken untuk berbelanja berbagai kebutuhan.
Secara geografis, Pulau Sapeken lebih dekat dengan Pulau Bali. Namun, secara administratif, pulau tersebut masih masuk Kabupaten Sumenep. Bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari bukan bahasa Madura, melainkan Bajo, dari Sulawesi.
error: Content is protected !!