Pulau Sapeken Yang Dihuni Manyoritas Suku Bajo

BAJAUINDONESIA.COM- Kendati sempit, pulau Sapeken dihuni oleh sekitar 13.600 jiwa. Dari jumlah itu, penduduk Suku Bajo berdasarkan Sensus Penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik tahun 2000 berjumlah sekitar 8.424 orang. Bisa dibayangkan, inilah Suku Bajo dengan populasi terpadat di Indonesia dan dunia.

Menurut Antropolog asal Jepang yang mendalami Suku Bajo, Prof Nagatzu Kazufumi, populasi Suku Bajo di seluruh dunia tercatat sekitar 1,1 juta orang. Mereka tersebar di daerah- daerah pantai di Pulau Sulu (Filipina), pantai Sabah (Malasyia), dan Indonesia.

Di Indonesia, Suku Bajo tersebar di berbagai pulau-pulau kecil dan pantai seperti di Provinsi Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulewesi Selatan, Jawa Timur, dan lain-lain. Lalu, dari manakah Suku Bajo berasal, Indonesia atau Filipina? Kalau pertanyaan tersebut ditujukan pada masyarakat Bajo, umumnya mereka serempak bakal menjawab tidak tahu. Maklum, gaya hidup mereka yang selalu berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya membuat generasi sekarang ini seolah kehilangan nenek moyang mereka.

Manusia Laut Menurut Kazumi dalam karya ilmiahnya yang diterbitkan jurnal Hakusan Review of Anthroplogy edisi ke-13 (Maret 2010), ada dua hipotesa menyangkut asal mula Suku Bajo. Pertama, diajukan ahli geografi ternama D.E. Sopher yang telah dipublikasikan dengan judul Th e Sea Nomads atau Manusia Laut yang Berpindah-pindah (1977).

Menurutnya, secara periodik Suku Bajo bermigrasi dari Pulau Lingga (Riau) sejak abad ke-14 sampai abad ke-17 menuju pantai barat Kalimantan. Dari sini mereka lalu menyebar ke Sulu (Filipina) dan pantai-pantai di Pulau Sulawesi. Kalau melihat hipotesa Sopher tersebut, bisa jadi asal mula Suku Bajo berawal dari Pulau Lingga, yang sekarang secara administrasi berada di Provinsi Riau Kepulauan. Lain lagi dengan hipotesa yang diajukan ahli lingusitik AK Pallesen dan ahli etnografi HA Nimmo.

Dilihat berdasarkan bahasa yang dipakai kelompok tersebut, Pallesen dan Nimmo berpendapat, Suku Bajo berasal dari Mindanao, Filipina. Menurutnya, pada abad ke-10 itulah mereka lalu menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Terlepas dari asal mulanya, keberadaan Suku Bajo di Indonesia tergolong unik. “Mereka hanya mendiami kawasan pantai yang memiliki potensi ikan yang berlimpah.

Itulah sebabnya, tak ada Suku Bajo yang tinggal di pesisir utara Jawa. Mereka tahu, selain terumbu karang sudah hancur, perairannya juga kotor akibat parahnya pencemaran dari hasil aktivitas manusia di daratan Pulau Jawa. Kondisi semacam ini jelas sangat sulit untuk memburu ikan, udang, lobster, dan lain-lain.

Terdampar di Pulau Sapeken

Lalu dari manakah Suku Bajo yang sekarang ini menetap di Pulau Sapeken? Berdasarkan beberapa kajian, menilik bahasa dan logat yang dipakai, mereka berasal dari Sulawesi Selatan. Konon, menurut cerita dari mulut ke mulut, mereka terdampar di pulau tersebut dan tidak dapat keluar selama satu pekan (satu minggu).

Dari sinilah lalu pulau kecil itu dinamakan Pulau Sapeken. Kini, pulau tersebut didominasi komunitas Suku Bajo. Hampir separo dari jumlah penduduk itu dihuni oleh Suku Bajo. Sisanya, berasal dari Suku Bugis, Mandar, Madura, Jawa, dan Bali. Seluruh penduduk tersebut memeluk agama Islam. Kendati kegiatan kebudayaan didominasi oleh Suku Bajo, mereka tetap hidup rukun dan damai.

Ini dikarenakan mereka tetap menjunjung tinggi budaya dan adat suku lainnya seperti Madura, Jawa, Bali, dan Bugis. Bagi Suku Bajo, tinggal di Pulau Sapeken memiliki kenyamanan tersendiri. Selain perairannya masih bersih, lingkungan ekosistem lautnya juga masih sehat. Letaknya juga terbilang strategis, yakni dikelilingi pulau-pulau Kangean, Pagerungan Kecil, Pagerungan Besar, Saur, Sadulang Besar, dan lain-lain.

Editor 🙁 Ghozi Ahmad )

 

bajauindonesia.com
error: Content is protected !!