Lautku Kehidupanku (Dilaoku Kalollamangku)

Avatar

Artikel ini ditampilkan sebagai salah satu dari 3 Peserta Peraih Nominasi Pemenang Lomba Menulis Berita dan Artikel Berbahasa Bajau yang diselenggarakan oleh POSBI (Persatuan Orang Sama Bajau Indonesia)
Link Lomba: POSBI Menggelar Lomba Menulis Berita dan Artikel Berbahasa Bajau, Mengawali Lomba Foto, Lomba Video, dan Festival Pemilihan Putra Putri Bajau Indonesia 2021

Artikel ini ditampilkan sebagaimana adanya, tanpa mengubah apapun.

banner 325x300

Silakan bantu voting peserta untuk memperebutkan Juara 1 dengan membantu membagikan artikel ini sebanyak-banyaknya, Voting ditutup Tanggal 13 Mei 2021.

Dilaoku Kalollamangku

Masyaraka Sama/Bajo ttuana memongna jea masi jagaangna sikali keraifan lokal, baka budaya na, jagaang na ka’alapang iga dilao baka dilaona. Dakkau buktina takita tikka masi para sama ma ngandaka dayah baka cara di tuong bona dipana dayah taddakku, selain iru ampa takita tikka ma iga-iga dilao boroh bangko da taha patambanang baka iga tabbeh ma masi tajagaang alo.

Sama itu nia kearifan lokal na lebba tradisi, atorang ato pantangang ma di patappa indah doulu timpu hattoa sama ma doulu rapi itu-ituangna. Masi para ma dipatappa tentang anu gaib baka iru dipatappa ale kasimemongna sama, lebba Nia dakkau tradisi dilarangang ngindo boe aseng pake pario, ale iru di patappa na malo bhahaya jana, na nia sange ngindas baja goya basar, nggai kole nibha sigge kadilao, nggai kole nibha api, puntung roko’ baka rarampa ma nganga lebba cabhi, apa iru di patappa kole na ma petu bahaya.

BACA JUGA:  Kapal Suku Bajau Negara Asing Tangkap Ikan di Perairan Indonesia Tidak Ditenggelamkan

Sama takatonang ahli madilao, sama ma doulu takatonang tambang ma lambo ato Lepa ma nia kamar baka bongkawangna, tapi itu-ituangna jarah lagi takita bahkan nggai lagi nia tatummu. Sama lolloangna itu tambang ma ruma ma pulo-pulo ttua kasimemong pulo ma nia ma Indonesia itu.

Baka kearifan lokal, budaya, Ado istiadat na baka para ma malasso (unik) ma gau tatummu ma kampoh Sama ditambangang ampa alam na ma malasso iru pulo-pulo gau di padadi tampa paddumalanang bagei-bagei ma luaang, lubbi ne ampa puge bagei ma langa sikola na sumanta padadina bahan puge na telitina je.

Sama itu nggai ale kito ato nggai kole na je tambang ma daro, tapi ale nia ma di jagaang na tentang kasamaangna je, iru ne lubbi pene na tambang ma diata dilao, apalagi indah dilao itu pegena po’ong jajamah baka kalollomangna.

Ditambangang ampa anana na ke biasa ne baka kalollomang ma dilao. Indah timpu na ma lassu je masi nia hatoa ma nyirapang anana baka Boe aseng. Bahkan anna dikki ma dia lima ntaong ngatonang ne batingga baka ai je ma bahaya madilao, kole na ne nganjagaang diri na, puge anna bagei manassa ne herang ma ngita anna sama baka kondisi alam ma tarekeh pinno bahaya pangita,na je.

Dilao itu sumber kalollomangna je puge sama itu. Dange ntaong damburi itu baka para ne kemajuan taong sama kole na ne du menyesuaikan, tikka ma pasikolaang baka ma pamarentaang para ne du sama ma dialang na.

BACA JUGA:  Desaku "Jayabakti"

Terjemahan Bahasa Indonesia

Lautku Kehidupanku

Masyarakat Suku Bajau/Bajo hampir secara keseluruhan masih merawat kearifan lokal dan budayanya, menjaga kelestarian pesisir dan lautnya. Salah satu bukti, terlihat dari masih banyaknya suku Bajau/Bajo yang selalu melakukan proses penangkapan ikan secara tradisional seperti diantaranya dengan cara menyelam sambil membawa panah (Manaa’ Dayah) disamping itu pula nampak hutan mangrove di sepanjang pemukiman dan pesisir pantai mereka yang terjaga dengan baik.

“Komunitas Bajo ini memiliki kearifan lokal berupa tradisi, aturan atau pantangan turun temurun yang dipraktikkan, dipelihara dan ditaati masyarakat Bajo.” Masih banyak kepercayaan yang bersifat gaib dan itu dipercaya oleh seluruh masyarakat Bajau, seperti salah satunya larangan menimba air laut menggunakan Periuk/panci karena itu bisa mengakibatkan datangnya angin kencang dan ombak besar, tidak boleh membuang kotoran di laut, tidak boleh membuang api, puntung rokok dan rempah-rempah yang memiliki rasa pedas seperti lombok/cabai karena itu dipercaya dapat mendatangkan musibah.

Suku Bajo terkenal sebagai pelaut ulung, suku Bajo Bajau awalnya dikenal tinggal di lambo atau perahu yang beratapkan daun Rumbia, namun kini sudah jarang di jumpai. Kini suku Bajau tinggal dan menetap di rumah dan tersebar hampir di seluruh pulau yang ada di Indonesia.

Dengan kearifan lokal, budaya, adat istiadat dan banyaknya keunikan yang sering dijumpai dilingkungan komunitas Bajau ditambah lagi dengan keindahan alam, makanya pulau-pulau sering dijadikan pilihan orang di luar komunitas sebagai tempat rekreasi yang bagus untuk dikunjungi, terlebih lagi di lingkup akademisi selalu menarik perhatian untuk melakukan penelitian.

BACA JUGA:  Suku Bajo Banggai Laut, Sulawesi Tengah

Masyarakat Bajau bukannya tidak mau dan atau tidak mampu hidup dan tinggal di wilayah daratan, namun mereka memilih untuk tinggal dan menetap di rumah panggung tepat diatas air itu karena ada nilai-nilai yang tak bisa ditinggalkan, apalagi lautan adalah sumber kehidupan bagi masyarakat Bajau tersebut.

Ditambah lagi anak-anaknya sudah terbiasa dengan kehidupan yang ada di lautan. Sejak lahir terkadang masih ada orang tua Bajau yang terbiasa menyentuhkan anaknya yang baru lahir dengan air asin. Bahkan balita sebagai generasi mereka sudah mengenal tentang kehati-hatian dengan wilayah lautan yang sudah pasti orang diluar Bajau ngeri bahkan terkagum-kagum melihat mereka dengan keadaan alam yang ada di sekitarnya.

Lautan adalah sumber mata pencaharian bagi masyarakat Bajau. Dalam beberapa tahun terakhir dan seiring perkembangan zaman kini masyarakat Bajau perlahan mamiliki kemajuan, baik dibidang pendidikan maupun pemerintahan.

PENULIS: JONI BAJO

error: Content is protected !!