oleh

ERNI BAJAU: POLA ASUH ANAK PADA KELUARGA BAJAU

Jurnal ini disampaikan pada kegiatan Seminar Internasional “SUMMER COURSE 2020”,yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, 25 November 2020. Deselegasi dari Lembaga Bajo Bangkit.

Suku Sama lebih dikenal sebagai Orang Bajau dan biasa disebut Orang Bajo. Suku Sama mendiami hampir seluruh semenanjung, pantai, dan laut di Asia, terutama Kepulauan Sulu Filipina, Sabah Malaysia, Samporna, dan pulau-pulau di Indonesia. Bahkan beberapa sumber menyebutkan suku Sama juga ada di Madagaskar dan mendiami laut Australia.

Orang Bajau menggunakan Bahasa Sama, di Malaysia menyebutnya Baun Samah, di Indonesia menyebutnya Baong Sama artinya Bahasa Sama. Baong Sama adalah bahasa daerah yang digunakan oleh orang Bajau. Kata Bajau atau Bajo adalah identitas yang diberikan oleh orang non-Bajau kepada Suku Sama, yang oleh orang Bajau mereka sebut Munsia Bagai/Bagei (Bukan Suku Sama).

Sejak puluhan tahun silam hingga saat ini beberapa peneliti, baik dari dalam dan luar negeri gencar membuat penelitian tentang Asal-Usul orang Bajau, dari hasil penelitian tersebut, ditemukan beberapa penemuan yang hasilnya berbeda-beda. Ada yang menemukan Asal-Usul orang Bajau adalah dari Kepulauan Sulu, Filipina, ada yang menemukan berasal dari Johor Malaysia, ada juga dari Pulau Sulawesi, Indonesia, dan masih banyak lagi tulisan-terkait Asal-Usul Orang Bajau bertebaran di internet.

Saat menulis novel “Manusia Perahu Terakhir”, Penulis melakukan observasi, dan mengkaji semua aspek kehidupan orang Bajau selama lima tahun. Melakukan pengamatan dan mengkaji pola hidup orang Bajau secara langsung dan juga sebagai pelaku.

Pola hidup orang Bajau penulis observasi secara sistematis, yakni;

Pola hidup orang Bajau sejak masih tinggal di atas perahu beratap yang disebut ‘soppe’, dan hidup berpindah-pindah atau nomaden, menyesuaikan hidup dengan kondisi cuaca setiap wilayah yang dijadikan pilihan untuk mencari hasil laut.Soppe adalah rumah bagi orang Bajau. Di dalam soppe’, orang Bajau beranak-pinak, menjalani seluruh hidupnya di atas perahu, mulai dari hubungan percintaan,  proses melahirkan, membesarkan anak, melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mencari nafkah dan kegiatan umum lainnya.

Ada beberapa orang mengajukan pertanyaan pada saya:

  1. Bagaimana orang Bajau itu melakukan hubungan suami istri, sedangkan di dalam perahu tersebut ada anak-anak mereka?
  2. Bagaiman orang Bajau itu buang sampah dan buang air besar?
  3. Bagaimana dengan orang yang mati, dimana dikuburkan, apakah jasadnya dibuang ke laut?
  4. Bagaiman cara mereka membesarkan anak-anak mereka?


Jawaban pertanyaan poin 1, 2, dan 3, akan diuraikan pada tulisan/topik yang lain, namun akan disinggung sedikit saat memberikan materi presentasi.

Pertanyaan poin nomor 4 akan kita uraikan, sesuai dengan Tema Presentasi kali ini  yakni “Parenting in Rural Families: Case Study in Bajo Families”(Pola Asuh Anak dalam Keluarga Pedesaan: Studi Kasus pada Keluarga Bajau)”

Dari latar-belakang kehidupan orang Bajau puluhan tahun silam di atas, kemudian melihat perkembangan kemajuan zaman saat ini, pola hidup Suku Sama pun mengalami perkembangan secara global. Peradaban Suku Sama pun mengalami perubahan, mulai dari yang dahulunya dikenal sebagai Manusia Perahu hingga tinggal di bangunan bertingkat di daratan.

Bagaimana Pola Asuh Anak dalam Keluarga Bajau?

Penulis membagi 2 kategori Orang Bajau, yakni kategori berdasarkan sifat/karakter dan kategori berdasarkan tempat/wilayah.

Kategori Tempat/Wilayah;

  1. Bajau Laut
  2. Bajau Pantai
  3. Bajau Darat

Kategori Sifat/Karakter:

  1. Bajau Primitif
  2. Bajau Tradisional
  3. Bajau Modern

Dari dua kategori di atas, ditemukan pola asuh anak yang berbeda-beda. Kenapa demikian? Uraiannya adalah sebagai berikut:

A. Dari segi Tempat/Wilayah;

  1. Bajau Laut
    – Tinggal di tengah laut dangkal, di tengah rif,
    – Tinggal di gugusan pulau-pulau kecil
  2. Bajau Pantai
    – Tinggal di bibir pantai yang menyatu dengan daratan
    – Tinggal di atas laut yang sudah menyatu dengan daratan karena adanya reklamasi laut yang dibangun dari batu-batu karang laut.
  3. Bajau Darat
    – Kelompok orang Bajau yang biasanya berasal dari kampung Baja
    – Pantai dan Bajau Laut, kemudian hidup di daratan, mata pencaharian bukan sebagai nelayan.

    B. Dari segi Sifat/Karakter:

    1. Bajau Primitif
    – Tidak mau tinggal di pinggir pantai atau di sebuah pulau
    – Meski sudah memiliki bangunan rumah di atas laut, namun lebih banyak menghabiskan waktu di ‘soppe’ (di atas perahu)
    – Tidak menerima perubahan
    – Memercayai mitos dan takhayul
    – Tertutup, tidak menerima orang lain (menutup diri)
    – Adat dan tradisi leluhur masih sangat kental dan rutin dijalankan
    – Menilai tingkat keberhasilan dari banyaknya hasil laut yang diperoleh

    2. Bajau Tradisional
    – Mau tinggal di sebuah rumah
    – Menerima perubahan
    – Sebagian masih percaya mitos dan takhayul
    – Sebagian masyarakat masih menjalankan adat dan tradisi leluhur
    – Bersifat terbuka pada orang lain yang mendatangi perkampungannya
    – Menilai tingkat keberhasilan dari bagus dan lengkapnya peralatan melaut

    3. Bajau Modern
    Sama dengan pola pikir masyarakat modern pada umumnya.
    – Mengukur tingkat keberhasilan dengan banyaknya gelar atau tingginya jabatan, sehingga berlomba-lomba untuk mendapatkan Pendidikan lebih baik.
    – Mengukur tingkat kekayaan dari banyaknya properti yang dimiliki sehingga banyak yang menjadi pengusaha, menduduki jabatan legislative dan eksekutif di pemerintahan.
    – Tidak percaya mitos dan takhayul
    – Anak-anak tidak ditekankan untuk bisa berbahasa Bajau

PEMBAHASAN

Bagaimana Pola Asuh Anak dalam Keluarga Pedasaan Bajau berdasarkan Dua Kategori di Atas?

Pola asuh anak pada keluarga masyarakat Bajau berbeda-beda. Perbedaan pola asuh anak disebabkan oleh dua kategori yakni dari segi sifat/karakter dan dari segi tempat/wilayah tinggal. Beberapa teori psikologi menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggal berperan besar terhadap pola pikir manusia. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat Bajau, lingkungan tempat tinggal orang Bajau mempengaruhi pola mengasuh anak-anak mereka.

  1. Pola Asuh Anak pada Keluarga Bajau Laut

    A. Bajau Laut Primitif
  • Saat lahir, orang tua sudah memulai perannya dalam membentuk karakter anak. Hal ini dibuktikan dengan cara memberi garam dengan jumlah yang pas pada ari-ari anak yang baru lahir. Terbangun sebuah keperyaan bahwa anak yang keras kepala, tidak mau menuruti kemauan orang tuanya disebabkan oleh ari-ari anak kurang garam.
  • – Selain keras kepala, anak yang kurang terampil melaut dan terlahir sebagai anak Berkebutuhan Khusus pun dianggap karena garam pada ari-arinya kurang.
  • – Begitu lahir, anak langsung dicelupkan ke air laut, sebagai ritual mengesahan sebagai anak laut yang diharapkan menjadi pelaut yang handal.
  • – Anak yang dilahirkan semata-mata diharapkan sebagai penerus keluarga dalam menjalankan tradisi melaut.
  • – Anak perempuan dan anak laki-laki harus memiliki keterampilan yang sama saat melaut. Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya dalam mencari nafkah.
  • – Anak-anak dilarang berbicara pada orang asing yang ditemuinya di laut.
  • – Dalam urusan jodoh, orang tua memilih mengawinkan anaknya pada anak saudara kandungnya. Hal ini bertujuan untuk membangun garis keturunan yang lebih besar.
  • – Selain terampil di laut, anak perempuan harus terampil di dapur. Bisa memasak dan mengurus kebutuhan sehari-hari keluarga.
  • – Anak laki-laki tidak boleh mengerjakan urusan dapur, masak-memasak, dan urusan dapur lainnya.
  • – Saat makan, orang tua laki-laki harus didahulukan. Setelah orang tua laki-laki selesai makan, kemudian orang tua perempuan makan bersama anak-anaknya yang laki-laki dan anak perempuan. Ini norma yang wajib diikuti, jika melanggar, anak akan dicap kurang ajar.
  • – Anak-anak sejak kecil diajar cara berenang yang baik, cara menyelam hingga kedalaman puluhan meter, cara menahan nafas yang lama, cara berjalan di dasar laut. Membentuk anak menjadi pelaut penerus keluarga.

Bajau Laut Primitif kita dapat jumpai di Desa Baloba  Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara

B. Bajau Laut Tradisional

  • Seperti halnya pada Bajau Laut Primitif. Pada Bajau Laut Tradisional, sebagian orang tua masih percaya, saat lahir, ari-ari anak harus diberi garam yang pas takarannya. Selain keras kepala, anak yang kurang terampil melaut dan terlahir sebagai anak Berkebutuhan Khusus dianggap karena garam pada ari-arinya kurang.
  • Saat lahir, orang tua tidak lagi melakukan tradisi ritual anak dicelupkan ke air laut, namun, seiring waktu, anak tetap diajarkan menjadi pelaut yang handal.
  • Selain diharapkan sebagai penerus keluarga dalam menjalankan tradisi melaut, anak laki-laki diberi kebebasan untuk mengenal dunia luar, sehingga banyak orang tua yang mengizinkan anaknya keluar dari kampung untuk merantau atau untuk menempuh Pendidikan formal.
  • Anak perempuan dan anak laki-laki harus memiliki keterampilan yang sama saat melaut. Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya dalam mencari nafkah.
  • Dalam urusan jodoh, orang tua masih berperan penting dalam memilih jodoh untuk anak-anaknya
  • Hanya anak perempuan yang boleh mengerjakan urusan dapur. Anak laki-laki yang terlihat mengerjakan pekerjaan dapur seperti masak-memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, langsung dianggap laki-laki tidak normal (misal: banci)
  • Soal Pendidikan, sebagian orang tua tidak membolehkan anak perempuannya sekolah. Anak perempuan semata-mata diasuh agar bisa mengurus suami dan anak-anaknya kelak.
  • Saat makan, mendahulukan semua anggota keluaga laki-laki (tua maupun muda) untuk makan terlebih dahulu, kemudia menyusul anggota keluarga perembuan (tua dan muda)
  • Bajau Laut Tradisional dapat kita jumpai di desa Lohoa, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi.

    3. Bajau Laut Modern
  • Meskipun wilayah tempat tinggal orang Bajau Laut berada di atas laut, namun orang tua sudah memperoleh pengetahuan cara mengasuh anak yang baik.
  • Meskipun di atas laut, namun akses informasi perkembangan ilmu pengetahuan terkini sudah update. Masuknya aliran listrik dan akses internet, menjadi sarana yang berperan penting terhadap ilmu pola asuh anak yang baik pada anak.
  • Orang tua mendidik anak dan mendorong anak memperoleh pendidikan lebih tinggi. Orang tua tidak lagi mendoktrin anak untuk selalu bisa melaut atau menjadi pelaut.
  • Anak laki-laki dan perempuan harus bisa mengurus diri sendiri, dan bisa hudup mandiri, termasuk soal mengerjakan pekerjaan rumah.
  • Anak-anak diajarkan untuk tidak percaya mitos dan takhayul, misalnya saat melaut tidak boleh pakai baju warna merah, nanti disambar petir.
  • Bajau Laut Tradisional dapat kita jumpai di Desa Saponda Darat, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Meski bernama Saponda Darat namun Saponda Darat berada di sebuah pulau di tengah laut di depan teluk Kendari.

    2. Pola Asuh Anak pada Keluarga Bajau Pantai (Tradisional dan Modern)

Pola asuh anak pada keluarga pedesaan Bajau Pantai sudah menerapkan pola asuh tradisional dan modern. Orang Bajau yang tinggal di bibir pantai, bergaul secara luas dengan masyarakat lokal. Orang tua masih menanamkan nilai-nilai, norma-norma, tradisi, dan adat-istiadat yang berlaku secara turun-temurun pada anak-anak. Namun, anak-anak juga sudah diperkenalkan pada permainan modern, termasuk permainan online. Bajau Pantai dapat kita jumpai di Desa Bajo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, di Kelurahan Langara Laut, Kabupaten Konawe Kepulauan Provinsi Sulawesi Tenggara.

3. Pola Asuh Anak pada Keluarga Bajau Darat (Modern)

Orang tua Bajau Darat lebih banyak menghabiskan hidupnya di darat. Kategori Bajau Darat, adalah wilayah yang masuk ke wilayah ibu kota kecamatan, atau di sebuah kabupaten atau kota.

Orang tua sudah mengajarkan anak cara hidup mandiri, bisa mengeluarkan pendapat sendiri, bisa berpikir demokratis.

Di Bajau Darat, tidak lagi kita menemukan orang Bajau berprofesi sebagai nelayan, namun sudah menjalani profesi sebagai pegawai di instansi pemerintah atau swasta. Bajau Darat (Modern) kita jumpai di beberapa wilayah di Kota Kendari, di Kampungbutung dan di Langi’ Bajo di Kota Kendari Sulawesi Tenggara dan Orang Bajau di Denpasar, Bali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *