RUMAH PANGGUNG SUKU BAJO YANG HAMPIR PUNAH DI KEPULAUAN SAPEKEN

Prabu Siliwangi
Rumah Suku Bajo Kepulauan Sapeken Yang Hampir Punah

SAPEKEN Bajauindonesia.com-Di beberapa pulau seperti sapeken, Pagerungan, dan Pulau-Pulau yang lain disekitarnya, rumah ini masih dapat dijumpai meskipun keberadaan nya terus berkurang. Semakin sedikitnya jumlah rumah panggung tersebut bukan tanpa sebab, melainkan seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, rumah panggung mulai ditinggalkan dan masyarakat mulai beralih ke rumah tembok yang lebih modern. Tentu saja hal yang utama sebagai pertimbangan adalah rumah tembok yang dirasa lebih kuat, awet, dan tahan lama serta perawatannya yang tak perlu se intensif rumah panggung

Semestinya seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tidak seharusnya membunuh begitu saja suatu budaya yang ada di masyarakat. Akan tetapi diperlukan upaya untuk melestarikan dengan inovasi dan kreatifitas agar jejak-jejak sejarah tidak hilang begitu saja, dan terus mengalir dari generasi ke generasi.

banner 325x300

Karakteristik Dari Rumah Bajo

Tipologi rumah tradisional suku bajo berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang. Kemudian atap berbentuk limasan atau pelana yang umumnya menggunakan atap rumbia atau seng.

Dinding dan lantai rumah terbuat dari papan kayu namun masih banyak rumah suku Bajo yang menggunakan daun silar, pelepah sagu nan enau sebagai dinding.

BACA JUGA:  Organisasi Persatuan Orang Sama Bajau Indonesia Terbentuk, POSBI Diharapkan menjadi Organisasi Nasional yang Besar dan Menjadi Kekuatan Masyarakat Bajo di Indonesia

Rumah masyarakat suku Bajo berbentuk panggung yang terbuat dari kayu baik sebagai pondasi hingga badan rumah tadisional suku Bajo. Mereka menggunakan kayu lokal sebagai bahannya seperti kayu pingsan, besi, kerikis, togoulu, kalakka dan manjarite dengan pemakaian berbentuk kayu bulat yang masih mempunyai kulit dengan ukuran berdiameter antara 15 sampai dengan 25 cm.

Terciptanya bentuk arsitektur rumah Bajo dilatarbelakangi oleh suatu budaya, yaitu Budaya Appabolang. Dimana dalam budaya ini, terdapat prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pembuatan rumah Bajo.

• Ulu ( Kepala )
Sebagai tempat yang teratas karena melambangkan kesucian.
• Watang ( Badan )
Melambangkan suatu penghidupan sejati yang harus dilindungi.
• Aje ( Kaki )
Merupakan tempat kotor yang dipenuhi oleh roh jahat yang berfungsi untuk melindungi watang.

Didalam rumah Bajo dibagi menjadi tiga ruang, yakni ruang Lego-lego sebagai teras, Watangpola yaitu badan rumah dengan Pocci Bola sebagai pusat rumah untuk berkumpul dan mengadakan upacara serta Dapureng sebagai dapur. Mereka juga percaya arah barat sebagi kiblat dan suci tidak boleh digunakan sebagai tempat yang kotor seperti toilet. Anak tangga juga harus berjumlah ganjil, bila syarat ini tidak dipenuhi maka akan menyurutkan rezeki masuk kedalam rumah.

BACA JUGA:  Ketum POSBI, Erni Bajau Ajukan 7 Usulan DIM dalam RUU Kesehatan ke Kemenkes RI untuk Masyarakat Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, dan Masyarakat Perairan Laut

Dalam pembuatan rumah tradisional Bajo, masyarakat suku Bajo masih memegang teguh pakem dan mengadakan upacara adat setiap kali mendirikan rumah. Karena dalam kepercayaannya ada hari baik dalam mendirikan sebuah rumah.

Rumah tradisional suku bajo dibagi menjadi tiga tipe dengan berbagai ukuran. Mulai dari tipe kecil dengan 2 – 3 ruang didalamnya dengan bahan bangunan dari atap rumbia dan dinnding dari daun silar. Kemudian tipe sedang dengan 3-4 ruang didalamnya dengan atap dari rumbia dan dinding kayu, serta tipe besar dengan ruang lebih dari empat dengan atap seng dan dinding terbuat dari kayu olahan.

Disinilah bagaimana kebudayaan dan penyesuaian terhadap lingkungan berpengaruh terhadap arsitektur. Awalnya masyarakat suku Bajo datang dari bagian China Selatan, kemudian menyebar di beberapa kepulauan baik di Indonesia, Malaysia, hingga Filipina. Mereka pun mendiami pulau pulau tersebut dan membangun pemukiman baik dipesisir maupun di daratan. Kemudian masyarakat suku Bajo mendirikan hunian di pesisir atau di atas permukaan air laut. Rumah suku Bajo dibuat terapung dengan dasar batu karang yang telah mati dan pondasi terbuat dari kayu berdiameter 15cm hingga 25 cm.

BACA JUGA:  BUDPAR Sejarah Pulau Sulawesi yang Dijuluki Celebes

Hunian masyarakat suku Bajo menyesuaikan landskap pantai yang ditinggali. Hidup berdampingan dengan laut dan menggunakan bahan material dari alam memberikan kesan yang menyatu dengan alam. Penggunaan orientasi yang tepat serta penyususan ruang yang baik membuat dampak positif kepada penghuni terutama pada bagian teras dengan view hamaran laut lepas yang biru. Semoga desain rumah suku Bajo ini dapat menginspirasi. Terima kasih.

error: Content is protected !!