PULAU SAKALA SAPEKEN SUMENEP JAWA TIMUR

Prabu Siliwangi
Pulau Sakala Dari Rumah Panggung Hingga Sangkok

Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memiliki banyak pulau. Peraturan Bupati Nomor 11/2006 menyebut jumlah pulau di kabupaten ini sebanyak 126, dengan rincian 21 pulau berpenghuni dan 32 pulau tak berpenghuni. Semuanya masuk dalam administrasi kabupaten paling timur Pulau Madura ini, meski jaraknya cukup jauh dari kota kabupaten.

Salah satu pulau terluar dari Kabupaten Sumenep adalah Pulau Sakala, Kecamatan Sapeken. Tak seperti di daerah-daerah lainnya di Sumenep, penduduk pulau ini mengenal banyak bahasa, yaitu Mandar, Bajo, Bugis, Makassar, Madura, dan Indonesia. Hal tersebut bisa jadi karena mereka sangat dekat dengan Sulawesi yang hanya 4 jam perjalanan dari sana, sementara dari Kota Sumenep butuh waktu 20 jam.

banner 325x300

Bentuk bangunan di Pulau Sakala juga tergolong unik. Kebanyakan penduduk di sana menggunakan rumah panggung untuk tempat tinggal mereka. Hanya sebagian saja yang mengikuti kebiasaan masyarakat daratan, yaitu membangun rumah berlantai tanah.

BACA JUGA:  Tonton: Parenting in Bajau Families (Pola Asuh Anak pada Keluarga Bajau)

Makanan khas penduduk daerah ini adalah ketela, tapi mereka menyebutnya sangkok (bahasa Bugis)Kebanyakan makanan yang ada dipulau ini berbahan dasar ketela, mulai dari makanan pokok hingga makanan ringan, semacam agar-agar.

Ketela menjadi pilihan karena tahan lama. Ia bisa bertahan bahkan hingga bertahun-tahun jika disimpan di tempat yang baik. Hal itu menolong kehidupan mereka jika laut dalam keadaan ekstrem. Dalam kondisi seperti itu, penduduk Pulau Sakala akan kesulitan mencari makan karena tak bisa berlayar ke Sapeken. Ombak di penyeberangan antara dua pulau ini cukup tinggi pada waktu-waktu tertentu. Saat normal, ombak hanya setinggi 1,5 meter.

BACA JUGA:  Ketua DPD AWPI DKI Jakarta Erni Bajau: Miris Melihat Penulisan Ejaan Bahasa Indonesia di Beberapa Media Online

Karena ketahanannya itu pula, ketela juga menjadi makanan para nelayan saat mereka melaut. Rata-rata penduduk di sana bekerja sebagai pencari ikan. Mereka berlayar dalam jangka waktu yang lama, sehingga butuh makanan yang juga tahan lama. Dan, ketela inilah yang menjadi pilihan mereka.

Jika di daerah lain di Sumenep sudah lama disambangi sinyal ponsel, di kecamatan ini baru pada bulan Desember 2013 lalu. Jadi, baru sebulan ini penduduk di sana bisa menikmati komunikasi via ponsel. Telkomsel merupakan satu-satunya provider yang menjangkau daerah tersebut.

BACA JUGA:  Akibat Hujan deras, Ombak besar, Jembatan Penghubung Desa Mantigola dan Horuo hampir Terputus

(Sebagian besar data diambil dari buku “Ekspedisi Menantang Laut”, karya Zarnuji [JP Books, 2012])

error: Content is protected !!