Melihat dari Dekat Kampung Pengembara Laut suku Bajau di Gorontalo

Prabu Siliwangi

Foto udara permukiman suku Bajau Torosiaje yang berada di atas laut, di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 10 Agustus 2020 yang lalu. Suku Bajau terkenal sebagai suku pengembara laut dan nelayan ulung dalam mencari ikan, menyelam tanpa alat bantu dalam waktu yang lama serta kemampuan melihat tanda alam untuk mengetahui berbagai hal. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Sebuah perahu melintasi bagian tengah desa Torosiaje untuk membawa barang dan penumpang menuju daratan, di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 10 Agustus 2020 yang lalu. Nelayan adalah profesi utama suku Bajau Torosiaje dan beberapa diantaranya tukang perahu dan juga tukang bangunan. Perahu menjadi transportasi utama untuk 1.448 jiwa yang tinggal di desa ini, setiap rumah memiliki perahu sebagai pengganti motor ataupun mobil seperti orang yang tinggal di daratan. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

banner 325x300

Suasana salah satu bagian depan rumah warga suku Bajau Torosiaje yang menanam bunga di pot di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 10 Agustus 2020 yang lalu. Perahu juga memegang peranan penting dalam berbagai ritual adat. Budaya leluhur masih sangat kental terasa disini, berbagai tradisi, ritual dan pantangan masih dipatuhi oleh masyarakat suku Bajau Torosiaje. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

BACA JUGA:  Suku Bajau, Sang Aquaman Dunia Nyata

Sejumlah bocah suku Bajau bermain sepeda di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 10 Agustus 2020 yang lalu. Pemerintah daerah setempat pun memberikan perannya dalam pengembangan perkampungan Bajau Torosiaje, berbagai program telah dilakukan disana, mulai dari peningkatan perekonomian masyarakat melalui sektor perikanan, pembangunan sekolah, fasilitas umum, kesehatan, internet gratis hingga pariwisata. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Seorang warga suku Bajau melakukan perbaikan jala yang rusak dengan cara dijahit di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 10 Agustus 2020 yang lalu. Untuk perikanan, pemerintah memberikan benih ikan untuk dibudidayakan oleh suku Bajau, bagian bawah rumah dan juga perairan di sekitar perkampungan menjadi lokasi tambak ikan. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Sejumlah ojek perahu menanti penumpang di dermaga desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 10 Agustus 2020 yang lalu. Sedangkan untuk sektor pariwisata, Desa Torosiaje telah dijadikan desa wisata, dimana jasa transportasi ojek perahu, warung makan, pemandu wisata hingga ‘homestay’ memberikan dampak yang cukup besar bagi pendapatan masyarakat. ANTARA.

 

Torosiaje Wisata Kampung Terapung Di Laut Selatan Gorontalo

Desa Torosiaje terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

BACA JUGA:  Asal-Usul, Tradisi, dan Perubahan Suku Bajau

Jaraknya sekitar 239 kilometer dari ibukota provinsi Gorontalo atau 5 sampai 6 jam perjalanan jika berkendara dengan motor atau mobil.

Torosiaje berada di daerah paling barat Gorontalo, tak jauh dari perbatasan Gorontalo – Sulawesi Tengah.

Cukup mudah untuk mencapai kampung ini, yakni dengan menelusuri jalan utama Trans Sulawesi.

Sesampainya di Marisa, ibukota kabupaten Pohuwato, kamu hanya butuh waktu 1,5 jam lagi menuju kecamatan Popayato.

Nah, sesampainya di Desa Telaga Biru, pelankan laju kendaraan dan perhatikan di sebelah kiri atau selatan, terlihat gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Desa Wisata Torosiaje”.

Selanjutnya, hanya dalam waktu 7 menit saja atau sekitar 3,3 KM, sampai deh di dermaga penyebrangan.

Para pengunjung hanya dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 3000,- di pos masuk dermaga menuju Torosiaje.

Disini para pengunjung mulai disuguhi pemandangan hutan mangrove yang seakan terbelah oleh jembatan sepanjang 100 meter menuju dermaga.

Perahu milik warga berjejer di dermaga, seakan sudah menunggu dan siap mengantarkan kamu secepatnya untuk berpetualang di Torosiaje.

Hanya dengan membayar sebesar 10 ribu rupiah, kamu akan diantar-jemput oleh perahu yang kamu sewa ini.

BACA JUGA:  Adat Selamatan Leut Suku Bajau Samah Kota Baru Kalimantan Selatan

Aroma lautan yang khas bercampur semilir angin yang tersaring hutan mangrove mulai terasa akrab selama 15 menit perjalanan di atas perahu, kurang lebih 600 meter jarak tempuh.

Ketika perahu mulai ‘lepas’ dari kepungan hutan mangrove, rumah-rumah masyarakat Torosiaje mulai tertangkap pandangan, berdiri kokoh di atas lautan.

Dirangkum dari berbagai sumber: Tempo.co, Antara, Wisata Gorontalo

Editor : Prabu Siliwangi

 

 

error: Content is protected !!